Karakter sangat dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan belajar siswa. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bias membuat keputusan dan siap untuk mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang telah dibuat. Siswa Sekolah Menengah Pertama adalah siswa siswi yang berusia sekitar 12 sampai dengan usia 16 tahun, merupakan anak yang memasuki transisi perubahan masa anak anak menuju masa remaja awal yang mana biasanya mereka ingin menunjukan jati dirinya dengan berperilaku mengimitasi idola-idolanya. Cara pembentukan karakter yang baik bagi para siswa agar kelak bisa menjadi warga masyarakat yang berkepribaian baik, yang bersikap dan perilaku religious, toleran, jujur, disiplin, kerja keras, kreatif, tanggung jawab, mandiri, demokratis, menghargai karya orang lain dan cinta damai adalah melalui penerapan disiplin tata tertib sekolah
Istilah generasi milenial sendiri memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Generasi milenial terbentuk bagi mereka yang lahir pada tahun 1980-1990, atau awal 2000. Dan seterusnya.
TantanganTantangan yang dihadapi generasi muda saat ini bisa dikatakan kian kompleks. Kenapa begitu? Kerena kemudahan akses informasi yang ditopang internet dan media sosial, oleh karena itu pentingnya upaya tambahan untuk menanamkan pendidkan karakter kepada para siswa kita agar mereka tidak mudah terpengaruh dengan budaya negatif yang mereka dapat dari sekeliling mereka ataupun yang timbul akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa . Pendidikan karakter berfungsi:
1.Mengembangkanan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik. 2.Memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur dunia
3.Meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan media massa. Dalam rangka lebih memperkuat pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12)Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca,(16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, & (18) Tanggung Jawab (Pusat Kurikulum Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah . 2009:9-10). Up.
Upaya yang bisa dilakukan oleh satuan pendidikan dalam memperkuat pendidikan karakter untuk para siswa bisa dilaksanakan melalui kegiatan pembiasaan yang dilaksanakan di sekolah antara lain:
1.Kegiatan rutin
Kegiatan rutin Kegiatan rutin yaitu kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Misalnya kegiatan upacara hari Senin, upacara besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan, piket kelas, shalat berjamaah, berbaris ketika masuk kelas,
berdo’a sebelum pelajaran dimulai dan diakhiri, dan mengucapkan salam apabila bertemu guru, tenaga pendidik, dan teman. berjabat tangan dan mencium tangan guru jika bertemu dan lain-lain.
2.Kegiatan spontan Kegiatan yang dilakukan peserta didik secara spontan pada saat itu juga, misalnya, mengumpulkan sumbangan ketika ada teman yang terkena musibah atau mengasih sumbangan untuk bermasyarakat ketika terjadi bencana.
3.Keteladanan Merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain. Misalnya nilai disiplin, kebersihan dan kerapian, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur, taat beribadah dan kerja keras.
4.Pengkondisian yaitu penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter, misalnya kondisi toilet yang bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan pepohonan, poster kata-kata bijak yang dipajang di lorong sekolah dan di dalam kelas.
Secara nyata untuk menerapkan pendidikan karakter di suatu satuan pendidikan dapat dilakukan dengan membuat kebijakan sekolah untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan program ini. Antara lain dalam bentuk Penghargaan dan Pemberdayaan. Bentuk penghargaan yang diberikan pihak sekolah kepada peserta didik adalah dalam lomba kebersihan kelas. Penilaian kebersihan dilakukan sekolah setiap minggu. Jika dalam rentang waktu 1 (satu) bulan ada kelas yang mendapatkan juara paling bersih dan rapi sebanyak 2 kali berturut-turut, maka kelas tersebut akan mendapatkan “hadiah” yang berupa alat-alat kebersihan seperti sapu, kain pel, pengki, tempat sampah. Dimana hadiah tersebut akan disampaikan ketika ada upacara bendera di hari Senin. Adapun, sebagai bentuk Punishment
sebagai contoh adalah :Pukul 07.15 semua siswa harus sudah berada di sekolah dengan toleransi 15 menit.Siswa pulang sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Bagi siswa yang melanggar diberikan sanksi berupa membersihkan lingkungan sekolah. Kerapian dan kebersihan pakaian, dicek setiap hari oleh seluruh guru, diawali oleh guru jam pertama. Siswa yang tidak berpakaian rapi diminta merapikannya dan diberitahu cara berpakaian rapi. (kriteria rapi yaitu baju dimasukkan, atribut lengkap, menggunakan kaos kaki dan sepatu yang ditentukan), Kerapian rambut, dicek setiap hari oleh seluruh guru, panjang ukuran rambut tidak boleh kena telinga dan krah baju. Apabila menemukan siswa yang rambutnya tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan, maka diminta untuk mencukur rambut dan diberi tenggang waktu tiga hari, sekiranya masih membandel maka rambut yang bersangkutan akan dipotong oleh guru/petugas yang ditunjuk oleh sekolah. Memberikan sanksi pada siswa yang punya kebiasaan membuang sampah sembarangan., tetapi untuk mendukung kebijakan tersebut tentu saja pihak sekolah harus menyediakan berbagai sarana untuk mendukung pengembangan nilai-nilai Pendidikan Karakter. Sarana yang dimaksud adalah peralatan kebersihan seperti sapu, kain pel, ember, pengki, dan tempat sampah. Selain itu sekolah juga bisa mewajibkan semua kelas untuk berdoa bersama setiap awal jam pertama dan akhir jam terakhir ( sebelum meninggalkan tiap siswa menjabat tangan dan cium tangan guru yang berpiket di depan sekolah atau guru lain yang dijumpai pada saat siswa tersebut datang ke sekolah pada pagi hari. Sangat baik juga jika sekolah mewajibkan siswanya sholat dhuhur di musolla /masjid yang ada di lingkungan sekolah bersama dengan bapak ibu guru , atau untuk waktu-waktu tertentu diadakan acara pengajian atau kebaktian di dalam lingkungan sekolah agar selain dari mata pelajaran pendidikan agama siswa juga bisa memperoleh tambahan pengetahuan , apalagi kalau dari siswa sendiri yang bertugas memberikan ceramah pada acara tersebut. Masih banyak kegiatan pembiasaan yang dapat dilaksanakan pada satuan pendidikan dalam rangka memperkuat pendidikan karakter para peserta didik. Jika hal yang demikian ini sudah menjadi kebiasaan dilingkungan sekolah maka kebiasaan ini juga akan dilakukan juga ketika mereka berada di rumah atau dalam hidup bermasyarakat dan akan memberi andil yang besar bagi terbentuknya kehidupan
masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab .
